Site icon Media KotaKita

Indonesia Darurat Tenaga Medis: Presiden Prabowo Soroti Defisit 268 Ribu Dokter

Jakarta — Ketimpangan akses layanan kesehatan di berbagai pelosok Nusantara kembali menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa tanah air saat ini masih menghadapi krisis tenaga medis secara masif, dengan angka kekurangan mencapai ratusan ribu dokter umum, dokter gigi, hingga dokter spesialis.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat berpidato dalam agenda resmi nasional. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia setidaknya membutuhkan tambahan total sebanyak 268.073 tenaga medis untuk mengisi ketimpangan pelayanan di berbagai wilayah.

Secara lebih terperinci, angka defisit ini mencakup kebutuhan akan 84.781 dokter umum di 474 kabupaten/kota, serta 55.712 dokter spesialis yang tersebar di 481 daerah. Tak kalah memprihatinkan, sektor kesehatan gigi memegang angka kekurangan tertinggi, yakni mencapai 127.580 dokter gigi di 505 kabupaten/kota.

Kondisi ini berdampak langsung pada operasional Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di tingkat tapak. Hampir sebagian besar Puskesmas di Indonesia dilaporkan belum sanggup memenuhi kelengkapan 13 jenis tenaga kesehatan sesuai standar pelayanan ideal. Ketimpangan ini paling parah dirasakan oleh masyarakat yang bermukim jauh dari pusat ibu kota provinsi, terutama di wilayah Indonesia bagian Timur.

Kepala Negara secara khusus memberi penekanan pada krusialnya pemenuhan dokter gigi. Masalah kesehatan gigi dan mulut kerap dipandang sebelah mata, padahal infeksi atau kerusakan pada area gigi berpotensi merembet dan memicu komplikasi fatal pada organ tubuh vital lainnya.

Menjawab tantangan besar tersebut, pemerintah menegaskan tidak akan tinggal diam. Langkah konkret telah dieksekusi dengan membuka sembilan fakultas kedokteran baru serta menghadirkan 170 program studi spesialis dan subspesialis, baik yang berbasis perguruan tinggi maupun rumah sakit penyelenggara pendidikan. Upaya terobosan ini diharapkan mampu memangkas krisis dokter demi menjamin pemerataan hak kesehatan seluruh rakyat Indonesia.

Exit mobile version