Semarang — Kabupaten Blora terus memantapkan posisinya sebagai produsen beras terbesar keenam di Jawa Tengah sekaligus penyangga lumbung pangan nasional. Menatap masa depan sektor agraris yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Blora secara masif mendorong transformasi ke sistem pertanian organik demi menjaga kelestarian tanah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Langkah strategis tersebut dipaparkan langsung oleh Bupati Blora, Arief Rohman, saat menghadiri gelaran Muktamar Petani Nahdliyyin di Pesantren Al-Itqon, Semarang. Dalam kesempatan itu, Arief mengungkapkan adanya tren pertumbuhan positif pada produksi pangan daerah. Pada tahun 2025, perolehan Gabah Kering Giling (GKG) di Blora diproyeksikan menembus angka 530.818 ton, melesat hingga 25,07 persen dibandingkan hasil tahun 2024 yang tercatat sebesar 424.411 ton. Sejalan dengan capaian itu, pasokan beras lokal diperkirakan melonjak pesat menjadi 305.252 ton.
Lonjakan hasil panen tersebut ditopang oleh kenaikan produktivitas lahan yang mencapai 50,98 kuintal per hektare. Kendati angka produksi konvensional menunjukkan grafik memuaskan, Arief menekankan pentingnya masa depan pertanian yang lebih bersih. Menurutnya, penggunaan bahan kimia berlebih dalam jangka panjang berisiko merusak unsur hara tanah. Oleh karena itu, skema budi daya ramah lingkungan menjadi solusi mutlak bagi keberlanjutan sektor pertanian.
Guna mempercepat terwujudnya sentra organik di Jawa Tengah, Pemkab Blora mencanangkan program optimalisasi tanah bengkok desa. Setiap pemerintah desa dan kelurahan di mengimbau alokasi minimal satu hektare lahan bengkok untuk dijadikan percontohan budi daya organik. Dengan jumlah total 295 desa dan kelurahan di Kabupaten Blora, potensi kawasan ramah lingkungan yang tergarap bisa mencapai 295 hektare secara merata.
Gagasan ambisius ini turut diperkuat lewat kolaborasi strategis bersama Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) serta penjajakan kemitraan dengan BUMN seperti Pertamina dalam hal pendampingan teknis. Di sisi lain, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menyambut baik komitmen tersebut. Ia menegaskan bahwa forum petani Nahdliyin menjadi wadah independen untuk memperjuangkan kedaulatan, harkat, serta kemandirian ekonomi para petani di daerah.

