Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, kian mengkhawatirkan. Memasuki puncak musim kemarau pada pertengahan Agustus 2026, kobaran api dilaporkan kian meluas dan belum memperlihatkan tanda-tanda mereda secara signifikan.
Berdasarkan data integrasi SiPongi Kementerian Kehutanan serta laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, tercatat setidaknya 168 peristiwa karhutla telah terjadi sejak awal Januari hingga pertengahan Agustus 2026. Rentetan insiden tersebut mengakibatkan total area yang terdampak amukan si jago merah mencapai 622,1 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mengungkapkan bahwa eskalasi kemunculan titik panas (hotspot) melonjak drastis dalam dua bulan terakhir. Dari total 379 titik panas yang terpantau sepanjang tahun berjalan, sebanyak 252 titik terkonsentrasi pada bulan Agustus, sementara 78 titik lainnya terdeteksi sepanjang Juli.
Wilayah Kecamatan Arut Selatan menjadi zona yang paling parah terdampak dengan catatan 181 titik panas dan 85 peristiwa kebakaran, yang menghanguskan setidaknya 413,56 hektare lahan. Di posisi berikutnya, Kecamatan Kumai mencatat 59 kejadian dengan area terbakar mencapai 110,23 hektare, disusul potensi kerawanan serupa di wilayah Arut Utara.
Samuel menegaskan bahwa strategi penanganan karhutla tidak boleh hanya bertumpu saat kobaran api telah membesar. Kunci utama mitigasi bencana ini terletak pada deteksi dini serta respons cepat sebelum api menjalar ke area yang lebih luas. Kecepatan transmisi informasi serta partisipasi aktif laporan dari masyarakat sangat krusial bagi tim pemadam di lapangan.
Senada dengan hal tersebut, Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Adnan Santana, mengingatkan bahwa kondisi vegetasi gambut dan semak belukar yang kian mengering akibat cuaca panas membuat percikan api sangat cepat menjalar, terlebih jika terdorong hembusan angin kencang.
Adnan kembali mengimbau keras seluruh lapisan warga dan korporasi agar tidak membuka maupun membersihkan lahan perkebunan dengan metode membakar. Saat ini, tim gabungan terus menyisir zona-zona rawan melalui patroli berkala guna memadamkan titik api sedini mungkin sebelum menimbulkan dampak kabut asap yang lebih parah.

