Bencana kekeringan yang melanda kawasan pedesaan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, memicu krisis air bersih bagi warga setempat. Menanggapi situasi darurat ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah konkrit dengan menyalurkan bantuan air bersih secara langsung ke titik-titik terdampak di Desa Botteng Utara.
Aksi tanggap darurat tersebut dijalankan oleh Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sulawesi Barat di bawah naungan Direktorat Jenderal Cipta Karya. Langkah cepat ini diambil guna memastikan kebutuhan esensial masyarakat tetap terpenuhi di tengah kekeringan yang dipicu oleh perubahan iklim dan fenomena El Nino.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih berkualitas merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Menurutnya, keterjaminan akses air sangat krusial dalam menopang stabilitas sosial, ekonomi, dan lingkungan, terutama saat daerah berhadapan dengan anomali cuaca ekstrem.
Dalam upaya penanganan darurat ini, BPBPK Sulawesi Barat menerjunkan armada teknis berupa 3 unit Mobil Tangki Air (MTA) serta 2 unit Hidran Umum (HU). Total pasokan air bersih yang dialirkan mencapai 12.000 liter, yang disalurkan secara terukur agar merata ke seluruh pemukiman warga yang mengalami kelangkaan air.
Kepala BPBPK Sulawesi Barat, Wahyu Tri Nugroho, menegaskan pentingnya respons instan dan terkoordinasi dalam menghadapi bencana kekeringan. Ia menyampaikan bahwa ketersediaan sarana dan personel di lapangan merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah untuk hadir mendampingi masyarakat dalam kondisi kritis.
Selain menyalurkan pasokan air darurat untuk jangka pendek, Kementerian PU juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Sinergi ini bertujuan menyusun strategi penanganan jangka panjang guna meminimalisir risiko krisis air serupa di masa mendatang.
