Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mematangkan langkah strategis dalam mengendalikan ancaman banjir tahunan yang kerap melanda wilayah ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk menuntaskan proyek pengerjaan normalisasi Kali Cakung Lama secara menyeluruh pada tahun 2028 mendatang.
Langkah penataan infrastruktur air ini diproyeksikan bakal memberikan dampak signifikan bagi stabilitas lingkungan serta mobilitas warga sekitar. Berdasarkan kalkulasi teknis, rampungnya proyek normalisasi Kali Cakung Lama ini diperkirakan mampu menekan risiko dan dampak banjir hingga 20 persen, khususnya di dua wilayah terdampak paling parah, yakni Kecamatan Kelapa Gading dan Cilincing.
Selama bertahun-tahun, genangan air saat curah hujan tinggi kerap menjadi tantangan besar bagi warga setempat. Berdasarkan laporan masyarakat, ketinggian air di titik-titik rawan tersebut acap kali mencapai setinggi paha orang dewasa. Dengan optimalisasi alur sungai, debit air diharapkan dapat terdorong lebih cepat menuju muara laut sehingga genangan dapat segera surut secara signifikan.
Sebagai langkah konkret percepatan penanganan, Pemprov DKI akan segera membebaskan lahan di area hilir. Pramono menyampaikan bahwa penetapan lokasi (penlok) pembebasan tanah di titik krusial, terutama di kawasan Kampung Begog, akan ditandatangani dalam waktu dekat. Wilayah Kampung Begog diidentifikasi sebagai titik penyempitan utama (bottleneck) yang memicu sumbatan aliran air sebelum menuju laut.
Secara teknis, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin, memaparkan rincian target pengerjaan fisik di lapangan. Pihaknya membidik penyelesaian pengerjaan sepanjang 2,6 kilometer pada satu sisi sungai hingga Maret 2027. Apabila dikalkulasikan untuk kedua sisi tebing sungai, total panjang pengerjaan mencapai 5,2 kilometer.
Saat ini, progres pengerjaan di lapangan telah merampungkan sekitar 1 kilometer. Kendati demikian, pemerintah optimistis akselerasi proyek pengerukan dan pelebaran sungai ini dapat berjalan sesuai tenggat waktu demi mewujudkan wilayah Jakarta Utara yang lebih tangguh menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

