Site icon Media KotaKita

Bus TransJakarta Mogok di Koridor 13, Penumpang Terpaksa Berjalan Kaki di ‘Jalur Langit’

Sebuah insiden tak terduga melanda layanan transportasi massal andalan ibu kota. Bus TransJakarta mogok di jalur layang Koridor 13, tepatnya di sekitar wilayah Petukangan, Jakarta Selatan, pada Rabu (12/8). Kejadian ini mendadak melumpuhkan pergerakan bus lainnya hingga memicu penumpukan armada yang mengular di sepanjang jalur layang khusus tersebut.

Akibat kemacetan ekstrem yang mengunci satu-satunya lajur di atas sana, puluhan penumpang yang terjebak di dalam bus akhirnya mengambil keputusan nekat. Mereka memilih turun dari armada dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri beton pembatas di ketinggian. Pemandangan para komuter yang berjalan beriringan di atas jalur layang setinggi belasan meter ini langsung menjadi sorotan dan viral dengan sebutan berjalan di ‘jalur langit’.

Jalur layang Ciledug-Tendean (Koridor 13) memang dirancang khusus tanpa hambatan lampu lalu lintas, namun konstruksinya yang sempit tanpa bahu jalan membuat evakuasi armada yang mogok menjadi tantangan besar. Ketika satu bus mengalami kendala teknis, otomatis seluruh armada di belakangnya akan tertahan tanpa ada ruang untuk menyalip.

Menanggapi situasi darurat ini, manajemen PT Transportasi Jakarta segera menyampaikan permohonan maaf resmi atas ketidaknyamanan yang dialami para pelanggan setianya. Pihak manajemen mengimbau pengguna jasa untuk terus memantau pembaruan rute secara berkala guna mengantisipasi keterlambatan perjalanan.

Sebagai langkah mitigasi cepat untuk mengurai kemacetan, TransJakarta langsung memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa perpendekan rute. Penyesuaian ini berdampak pada operasional armada Rute 13B dan Rute L13E.

‘Sementara operasional diperpendek sampai Halte JORR. Bagi pelanggan yang akan menuju Petukangan, Puri Beta, dan Ciledug dapat turun di Halte JORR,’ tulis pihak TransJakarta dalam pengumuman resmi mereka di platform media sosial.

Kejadian ini kembali menekankan pentingnya pemeliharaan armada secara berkala, terutama bagi bus yang beroperasi di jalur-jalur krusial seperti jalur layang terisolasi. Hambatan di jalur seperti ini tidak hanya merugikan waktu operasional, tetapi juga memaksa penumpang menghadapi risiko keselamatan saat harus berjalan kaki di area yang tidak ramah bagi pejalan kaki.

Exit mobile version