Kobaran api membara tak terkendali di kawasan konservasi Gunung Bromo, Jawa Timur, telah meluas hingga mencakup area seluas 80 hektare. Pemandangan alam yang ikonik dan keanekaragaman hayati yang tak ternilai kini terancam oleh keganasan api. Menghadapi medan darat yang ekstrem dan sulit dijangkau oleh tim gabungan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah krusial dengan mengerahkan armada udara canggih untuk memadamkan bencana yang terus merambat ini.
Upaya pemadaman dari udara menjadi pilihan strategis mengingat tantangan geografis yang menghambat akses darat. Kebakaran yang awalnya terdeteksi di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pada Senin sore pekan lalu, kini telah merembet jauh hingga ke wilayah Watu Gede, Kabupaten Probolinggo, menunjukkan kecepatan penyebaran yang mengkhawatirkan.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menegaskan komitmen lembaganya dalam penanganan bencana ini. Beliau menyatakan, dua unit helikopter pengebom air akan diterjunkan, didukung oleh armada drone penyiram bara. Penanganan dari udara ini ditargetkan beroperasi paling lambat hari berikutnya. Meskipun jenis helikopter yang akan dikerahkan masih disesuaikan dengan ketersediaan unit, mengingat BNPB juga sedang mengelola operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara serentak di enam provinsi lain, termasuk Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, komitmen untuk Bromo tetap menjadi prioritas.
Berkaca dari pengalaman kebakaran Bromo pada tahun 2023, pengerahan dua helikopter water bombing dinilai efektif dan memadai. Armada ini akan menjadi tulang punggung dalam upaya memadamkan api yang telah melahap vegetasi penting di area vital ekosistem Bromo. Suharyanto menambahkan bahwa keputusan mengenai jenis helikopter, apakah Mi atau Sikorsky, akan ditentukan berdasarkan unit yang paling siap dan tersedia.
Selain itu, BNPB juga telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemungkinan operasi modifikasi cuaca. Namun, dalam beberapa hari ke depan, operasi ini belum dapat dilaksanakan karena minimnya pertumbuhan awan hujan. Hal ini mempertegas bahwa fokus utama saat ini adalah pada upaya pemadaman langsung melalui jalur udara.
Untuk mengoptimalkan penanganan di titik-titik rawan, tim gabungan mengintegrasikan helikopter pemadam dengan teknologi pesawat nirawak atau drone water spray berkapasitas 150 liter. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa drone ini memiliki peran vital untuk menjangkau dan menyiram sisa-sisa bara api yang tersembunyi di lokasi-lokasi sulit. Sinergi antara teknologi canggih dan semangat gotong royong diharapkan mampu segera mengakhiri amukan api di salah satu permata pariwisata Indonesia ini, menjaga kelestarian alam Bromo untuk generasi mendatang.
