Ancaman radikalisme dan terorisme terus menjadi bayang-bayang yang membutuhkan respons komprehensif dari seluruh elemen bangsa. Dalam upaya strategis memperkuat ketahanan nasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan posisi krusial organisasi kemasyarakatan keagamaan sebagai garda terdepan. Mereka bukan sekadar mitra, melainkan pilar penting dalam menumbuhkan kesadaran anti-radikalisme sejak dini di tengah masyarakat.
Kepala BNPT, Eddy Hartono, dengan tegas menyatakan bahwa penanggulangan terorisme tidak mungkin diemban oleh pemerintah semata. “Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan yang memiliki kedekatan dengan masyarakat,” ujar Eddy, menekankan pentingnya sinergi ini. Kedekatan ormas agama dengan komunitas menjadikan mereka agen perubahan yang efektif dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi dan kontra-ekstremisme.
Strategi pencegahan terorisme yang digalakkan BNPT bertumpu pada tiga pilar utama: kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi, dan deradikalisasi. Eddy menjelaskan bahwa semakin luas jalinan kolaborasi yang terbentuk, semakin kokoh pula daya tahan masyarakat dalam membendung arus ideologi kekerasan dan propaganda ekstremisme. Ini adalah upaya masif untuk menciptakan imunitas sosial terhadap paham-paham yang memecah belah persatuan.
Salah satu langkah konkret BNPT dalam mewujudkan kolaborasi ini adalah dengan memperkuat sinergi bersama organisasi Islam Mathla’ul Anwar. Pertemuan strategis di Bogor, Jawa Barat, menjadi penanda komitmen bersama dalam membangun ketahanan masyarakat dari ancaman paham radikal terorisme. Sinergi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi, literasi kebangsaan, serta penguatan nilai-nilai Pancasila hingga ke tingkat akar rumput, menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, Kiai Haji Jazuli Juwaini, menyambut baik inisiatif kolaborasi ini, menegaskan bahwa menjaga Indonesia dari ancaman terorisme adalah tanggung jawab kolektif. “Kami sangat berharap bahwa persoalan-persoalan bangsa termasuk di dalamnya terorisme yang tentu yang tidak bisa diselesaikan oleh sekelompok institusi dapat kita kolaborasikan. Kami sebagai organisasi Islam juga punya tanggung jawab kebangsaan,” tegas Jazuli, menggambarkan semangat gotong royong dalam menjaga keutuhan NKRI.
Sebagai wujud nyata komitmen, Mathla’ul Anwar menyatakan kesiapannya mendukung implementasi Program Desa Siapsiaga BNPT, terutama di Provinsi Banten yang memiliki nilai historis sebagai daerah kelahiran organisasi tersebut. Program ini krusial untuk menciptakan desa-desa yang tangguh dan sadar akan bahaya radikalisme, membangun benteng pertahanan dari level paling dasar masyarakat.
Melalui kolaborasi strategis antara BNPT dan Mathla’ul Anwar, diharapkan terjadi perluasan edukasi yang masif, peningkatan literasi masyarakat terhadap bahaya radikalisme, serta pembangunan daya tangkal publik agar tidak mudah terpengaruh narasi ekstremisme berbasis kekerasan. Sinergi ini tidak hanya memperkuat keamanan, tetapi juga menegaskan bahwa menjaga Indonesia tetap aman, damai, dan harmonis adalah tugas bersama seluruh elemen bangsa.
