Kendari, Sulawesi Tenggara – Di tengah hiruk-pikuk tantangan sosial, sebuah inisiatif revolusioner tengah bergulir di bumi Sulawesi Tenggara. Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia, melalui Sentra Meohai Kendari, secara aktif menjadikan Sekolah Rakyat Terintegrasi sebagai mercusuar harapan, sebuah strategi konkret untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi yang kerap menjerat anak bangsa.
Muhammad Gunawan, Kepala Sentra Meohai Kendari, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata kehadiran negara. “Pendidikan adalah jembatan paling kokoh untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Melalui Sekolah Rakyat, kami tidak hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga membangun fondasi pembinaan yang holistik dan berkelanjutan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu serta mereka yang memerlukan perlindungan khusus,” jelas Gunawan, usai gelaran Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kendari.
Konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi jauh melampaui kurikulum akademik konvensional. Para siswa tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan yang berkualitas, namun juga mendapatkan pembinaan karakter, penanaman nilai kedisiplinan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta lingkungan belajar yang aman dan nyaman. MPLS, misalnya, dirancang khusus untuk menanamkan integritas, semangat gotong royong, dan rasa percaya diri sejak dini, menjadikan setiap siswa siap menghadapi masa depan.
Perjalanan program ini telah menunjukkan progres signifikan. Selain di Kendari, Sulawesi Tenggara juga memiliki tiga rintisan Sekolah Rakyat lainnya, termasuk di Buton dan satu lagi di tingkat provinsi. Hingga saat ini, pembangunan fisik gedung permanen telah terealisasi di dua lokasi utama: Kota Kendari dan Kabupaten Buton Tengah. Gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kendari, yang dirancang dengan kapasitas hingga 1.080 siswa, menjadi bukti komitmen serius pemerintah.
Data menunjukkan pertumbuhan impresif. Dari 133 siswa pada Tahun Ajaran 2025/2026, jumlah peserta didik melonjak menjadi 339 siswa di Tahun Ajaran 2026/2027 dengan tambahan 206 siswa baru. Angka ini mencerminkan tingginya antusiasme dan kebutuhan akan program pendidikan inklusif semacam ini.
Visi Kemensos tidak berhenti di sini. Untuk memperluas jangkauan program strategis nasional ini, upaya pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat terus digalakkan di wilayah lain di Sultra. Menteri Sosial bahkan telah mengusulkan kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk pembangunan di lima wilayah tambahan: Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, serta Kota Baubau. Ini menandakan kolaborasi antar-kementerian yang kuat demi pemerataan akses pendidikan.
Gunawan menekankan bahwa keberhasilan masif program ini adalah buah dari sinergi berbagai pihak. “Dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat luas sangat krusial. Kami berharap Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kendari akan menjadi model sukses yang menginspirasi, berkontribusi nyata dalam membangun sumber daya manusia unggul, dan mempercepat langkah pengentasan kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas dan inklusif,” pungkasnya.
