Di bawah temaram lampu dan langit malam ibu kota, pelataran Monumen Nasional (Monas) Jakarta menjadi saksi bisu sebuah ikrar spiritual nan mendalam: Zikir dan Doa Kebangsaan. Acara yang menghimpun ribuan hati dalam untaian doa tersebut, mencapai puncaknya pada Sabtu malam dengan seruan persatuan yang menggema dari Ketua MPR, Ahmad Muzani. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menandaskan urgensi kebersamaan dalam menapaki tantangan bangsa.
Ahmad Muzani, yang tiba sekitar pukul 21.00 WIB, mengambil panggung kehormatan di penghujung acara, membawa pesan yang sarat makna. Dalam pidatonya yang khidmat, beliau menyoroti esensi dari setiap lantunan zikir dan doa yang telah dipanjatkan. “Kita baru saja menyampaikan zikir dan doa, mudah-mudahan semua zikir dan doa kita diterima Allah SWT, mudah-mudahan dengan doa dan zikir Indonesia dalam keadaan utuh, mudah-mudahan kita tetap dipersatukan Allah SWT,” tutur Muzani, suaranya dipenuhi harapan.
Lebih dari sekadar harapan akan keutuhan, Muzani juga menyuarakan perlunya Indonesia dihindarkan dari segala bentuk perpecahan yang dapat mengoyak tenun kebangsaan. Beliau berdoa agar para pemimpin negara senantiasa berada dalam lindungan dan bimbingan Tuhan, mampu mengemban amanah dengan integritas dan kebijaksanaan. Seruan ini, yang disampaikan di tengah hiruk-pikuk dinamika sosial dan politik, menjadi pengingat kolektif akan pondasi spiritual yang harus selalu dijaga demi keberlanjutan bangsa.
Acara Zikir dan Doa Kebangsaan ini bukan sekadar ritual keagamaan semata, melainkan manifestasi nyata dari upaya kolektif untuk merajut kembali simpul-simpul persatuan dan solidaritas. Dalam sebuah negara majemuk seperti Indonesia, momen-momen spiritual kebangsaan memiliki peran krusial dalam memperkuat identitas nasional, menumbuhkan rasa saling memiliki, dan mengingatkan setiap warga akan takdir bersama sebagai satu bangsa. Dari Monas, pesan perdamaian dan harmoni disemai, diharapkan tumbuh menjadi pohon kokoh yang menaungi seluruh Nusantara.
Meskipun Presiden Prabowo Subianto, yang sebelumnya dijadwalkan hadir, tidak dapat membersamai karena tugas kenegaraan yang penting—seperti disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar—semangat kebersamaan tidak sedikit pun luntur. Ketiadaan tersebut tidak mengurangi kekhusyukan dan tujuan utama dari acara. Malam itu ditutup dengan puncaknya, seluruh hadirin berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, disusul oleh lagu nasional Hari Merdeka, mengukuhkan kembali cinta tanah air di setiap sanubari. Sebuah malam di Monas, menjadi pengingat abadi bahwa kekuatan Indonesia sesungguhnya terletak pada persatuan dalam doa dan asa.
