Site icon Media KotaKita

Kisah Unik Kalidadap: Warga Bantul Mengalirkan Air Ratusan Meter dengan Kekuatan Gravitasi

Di tengah hiruk pikuk modernisasi, sebuah tradisi unik nan menginspirasi masih berdenyut kencang di Dusun Kalidadap I dan II, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Jauh dari jangkauan saluran PDAM, ratusan kepala keluarga di lereng perbukitan kapur ini menggantungkan “nadi kehidupan” mereka pada kearifan lokal dan kekuatan alam: air dari mata air alami Sendang Wonosari yang dialirkan via sistem gravitasi menggunakan puluhan selang panjang.

Setiap pagi, siang, dan sore, pemandangan belasan warga berkumpul di sekitar Sendang Wonosari adalah ritual harian. Bukan untuk mengantre pompa atau mesin, melainkan untuk memulai proses sederhana namun penuh kesabaran. Dengan hanya mengandalkan daya isap mulut di ujung selang, mereka memancing aliran air untuk masuk ke pipa plastik. Setelah itu, hukum gravitasi mengambil alih, mengantarkan air melintasi bentangan selang yang bisa mencapai ratusan meter, menuruni kontur perbukitan hingga ke rumah-rumah mereka.

Metode warisan puluhan tahun ini menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga ternak. Setidaknya 80 selang menjadi penghubung vital, masing-masing dengan panjang bervariasi. Salah satu yang terpanjang dimiliki Teguh (27), warga Kalidadap I, yang selangnya membentang hingga 600 meter. Ia dan warga lainnya harus sabar melepas dan menyambung kembali setiap sambungan selang agar udara terjebak tidak menghambat laju air – sebuah detail kecil yang krusial.

Keterbatasan air, terutama saat kemarau panjang, bukan hal asing bagi warga Kalidadap. Debit air menyusut, membuat mereka harus lebih sabar menunggu giliran. Namun, semangat kebersamaan tak pernah pudar. Tidak ada berebut, yang ada hanya gotong royong dan pengertian antarwarga. Hal ini tercermin dari kisah Sagi (72), warga Kalidadap I, yang telah mengandalkan sistem selang ini sejak tahun 1977. Baginya, rutinitas mondar-mandir memeriksa aliran air bukan hanya kewajiban, tapi juga berkah kesehatan.

Kepala Dusun Kalidadap II, Suroso (31), mengungkapkan tantangan yang dihadapi. Meskipun beberapa rumah memiliki sumur dangkal, mayoritas masih bergantung pada Sendang Wonosari. Pernah ada upaya membangun sumur bor, namun tingginya pengguna membuat fasilitas itu rentan rusak dan kini tak lagi berfungsi. Situasi ini memaksa warga mengandalkan swadaya atau bantuan dropping air saat krisis.

Harapan baru muncul seiring dengan survei yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul. Mereka telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah DIY untuk menjajaki alternatif seperti pembangunan sumur bor baru atau program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Mujahid Amrudin, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, menyatakan peluang bantuan ini sangat terbuka.

Kisah Kalidadap adalah potret ketangguhan, inovasi sederhana, dan eratnya solidaritas masyarakat dalam menghadapi tantangan alam. Lebih dari sekadar selang, ini adalah simbol perjuangan yang tak pernah padam demi setetes air bersih, yang terus mengalirkan harapan di lereng perbukitan Bantul.

Exit mobile version