Berastagi, jantung dataran tinggi Karo, Sumatera Utara, baru-baru ini kembali dimeriahkan oleh pesona Festival Bunga dan Buah Karo yang memukau. Ribuan pasang mata, baik dari warga lokal maupun wisatawan, tumpah ruah di sepanjang jalan utama, menanti arak-arakan kendaraan hias yang menjelma menjadi taman berjalan. Pemandangan ini bukan sekadar parade biasa; ia adalah etalase hidup yang mengukir kisah tentang kesuburan tanah Karo dan kreativitas masyarakatnya.
Puluhan kendaraan berhiaskan bunga krisan aneka warna, tumpukan kubis, wortel segar, hingga jeruk manis, bergerak perlahan di tengah sorakan dan tepuk tangan meriah. Beberapa bahkan dihiasi patung kerbau raksasa dari kertas, simbol kekayaan dan kekuatan pertanian lokal. Para peserta festival, dengan bangga mengenakan pakaian adat Karo yang indah serta busana tradisional dari berbagai daerah lain, melambaikan tangan, membalas antusiasme penonton yang tak henti mengabadikan setiap momen dengan gawai mereka.
Di balik gemerlap dan kemeriahan visual tersebut, tersimpan narasi yang lebih dalam: potensi ekonomi yang digerakkan oleh festival ini. Karya Jaya Ginting, seorang petani bunga krisan lokal, merasakan langsung dampak positifnya. “Pesanan bunga meningkat drastis, sekitar 40 persen dari hari-hari biasa,” ungkap Karya. Lonjakan permintaan hingga sekitar 2.000 tangkai, didominasi krisan kuning dan putih, menjadi angin segar bagi para petani. Festival ini, menurutnya, adalah panggung strategis untuk memperkenalkan kualitas bunga Karo kepada khalayak yang lebih luas, menumbuhkan harapan akan ekspansi usaha di masa mendatang.
Tidak hanya bunga dan buah, Festival Bunga dan Buah Karo juga menjadi wadah bagi 82 stan UMKM yang berjejer rapi. Aneka produk kreatif, mulai dari kerajinan tangan yang artistik, fesyen modern berbalut sentuhan tradisional, hingga olahan pangan lokal yang menggugah selera, turut dipamerkan. Junianti Surbakti, seorang pengusaha kuliner, melihat festival ini sebagai kesempatan emas untuk memperkenalkan inovasi produknya. Cokelat lapis stroberi, blackberry, dan raspberry miliknya menjadi daya tarik tersendiri, memanjakan lidah para pengunjung dan wisatawan yang mencari pengalaman rasa yang unik.
Secara keseluruhan, Festival Bunga dan Buah Karo telah membuktikan dirinya sebagai lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia adalah katalisator yang menghidupkan sektor pertanian, mendorong geliat UMKM, serta memperkuat identitas pariwisata Berastagi dan Tanah Karo. Melalui harmoni keindahan alam dan semangat kewirausahaan, festival ini tidak hanya memamerkan hasil bumi, melainkan juga menanamkan optimisme akan masa depan ekonomi dan budaya yang semakin cerah bagi ‘Tanah Paten’ ini.
