Revolusi digital tak hanya menyentuh sektor perkotaan, namun kini merambah hingga ke jantung perbatasan negara. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI baru-baru ini mengukir sejarah dengan memulai uji coba Sistem All Indonesia di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Inisiatif ambisius ini dirancang untuk mengubah wajah pelayanan perlintasan batas menjadi lebih modern, terintegrasi, dan berorientasi pada kemudahan masyarakat.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama BNPP RI, Budi Setyono, menjelaskan bahwa Sistem All Indonesia merupakan sebuah platform terpadu berbasis web dan aplikasi seluler yang mengintegrasikan berbagai layanan pemeriksaan. Bayangkan, kini pelintas batas tak perlu lagi berhadapan dengan birokrasi berjenjang. Seluruh pelaporan keimigrasian, kepabeanan, serta pemeriksaan kekarantinaan—mulai dari kesehatan manusia hingga hewan, ikan, dan tumbuhan—dikonsolidasikan dalam satu sistem digital. Tujuannya sederhana: mempercepat, mempermudah, dan meningkatkan efisiensi setiap proses perlintasan.
Uji coba perdana yang difasilitasi oleh BNPP RI bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra) ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah langkah strategis pemerintah untuk mengimplementasikan visi perbatasan cerdas melalui digitalisasi layanan. Sebelumnya, sistem serupa telah sukses diterapkan di bandara dan pelabuhan internasional. Namun, penerapannya di PLBN Entikong menandai babak baru, menjadi yang pertama kali di pintu gerbang darat.
Mengapa PLBN Entikong dipilih sebagai pilot project? Budi Setyono menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur dan karakteristik pelayanannya yang representatif menjadikan Entikong sebagai kandidat ideal. Sebagai gerbang utama yang menghubungkan Indonesia dengan Malaysia di Kalimantan Barat, pengalaman di Entikong akan menjadi barometer penting untuk pengembangan dan replikasi sistem ini ke PLBN lainnya di seluruh nusantara. Fasilitas pendukung seperti Kios Q monitor dan petugas layanan (stopper) telah disiapkan. Bahkan, pihak Imigrasi telah mengusulkan penambahan auto gate portal untuk mengoptimalkan pemeriksaan otomatis, sebuah langkah maju menuju pengalaman lintas batas yang futuristik.
BNPP RI optimis bahwa dengan dukungan fasilitas memadai, pelayanan lintas batas Indonesia akan semakin canggih dan mampu memberikan pengalaman yang lebih baik bagi para pelintas. Targetnya, implementasi penuh Sistem All Indonesia di PLBN Entikong akan diresmikan pada Oktober 2026. Namun, kesuksesan bukan hanya bergantung pada teknologi semata. Sosialisasi intensif kepada masyarakat, baik mereka yang akan berangkat maupun tiba di Indonesia, menjadi kunci krusial.
Melalui inisiatif ini, BNPP RI dan Kemenko Infra berharap Sistem All Indonesia dapat diimplementasikan secara bertahap di seluruh PLBN Terpadu. Integrasi layanan ini tidak hanya akan memperkuat pelayanan publik di kawasan perbatasan, tetapi juga menciptakan proses lintas batas yang aman, efisien, dan berorientasi pada kenyamanan masyarakat. Ini adalah lompatan besar menuju perbatasan Indonesia yang lebih modern dan berdaya saing global.
