Jakarta – Masa depan kepolisian Indonesia akan semakin cerah dengan hadirnya calon Bhayangkara yang adaptif dan berdaya saing tinggi. Akademi Kepolisian (Akpol) resmi mengumumkan gebrakan baru dalam proses seleksi taruna/taruni angkatan 2026, yang kini didesain untuk mencetak generasi polisi modern. Dua pilar utama perubahan ini adalah penerapan ujian berbasis komputer dan peningkatan kualitas soal akademik berstandar olimpiade, menandai babak baru dalam rekrutmen Polri yang lebih progresif dan relevan dengan tantangan zaman.
Transformasi ini merupakan bagian integral dari upaya Polri untuk terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan organisasi yang kian kompleks. Wakapolri Komisaris Jenderal (Komjen) Dedi Prasetyo memimpin tahapan akhir seleksi tingkat panitia pusat di Gedung Serba Guna Akpol Semarang, Jawa Tengah, baru-baru ini. Ia menegaskan komitmen Polri untuk menghasilkan sumber daya manusia terbaik.
Inspektur Jenderal Anwar, selaku Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (As SDM Kapolri), menjelaskan secara gamblang filosofi di balik pembaruan ini. Menurutnya, kemampuan menguasai teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kompetensi dasar yang wajib dimiliki setiap calon anggota Polri, dari jenjang tamtama, bintara, hingga taruna Akpol. “Beberapa hal yang baru di rekrutmen anggota Polri, tes komputer,” ujar Irjen Anwar. Penerapan tes komputer ini dirancang untuk memastikan bahwa para calon memiliki fondasi digital yang kuat, esensial dalam menghadapi tugas kepolisian yang semakin sarat teknologi.
Irjen Anwar menambahkan, “Kalau mereka tidak ngerti komputer, teknologi, mengoperasikan komputer, gadget, mereka akan ketinggalan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Polri sangat serius dalam mempersiapkan personel yang tidak hanya cakap secara fisik dan mental, tetapi juga lincah dalam dunia digital, mengingat sebagian besar calon merupakan generasi Z yang akrab dengan teknologi.
Tidak hanya aspek teknologi, kualitas tes akademik pun mengalami peningkatan signifikan. Materi ujian untuk seleksi Akpol 2026 kini setara dengan standar olimpiade. Ini berarti soal-soal tidak lagi mengandalkan hafalan semata, melainkan dirancang untuk menguji kemampuan berpikir kritis, daya analisis, dan keterampilan pemecahan masalah yang kompleks. “Polisi itu tesnya ada empat. Terkait intelektualitas tesnya tes akademik, bahasa Inggris, pengetahuan umum, matematika dan sebagainya. Dan sekarang ini sudah standar olimpiade,” jelas Irjen Anwar, menandakan pergeseran paradigma menuju seleksi yang lebih holistik dan menantang.
Hingga tahapan akhir seleksi tingkat panitia pusat, sebanyak 404 calon taruna dan taruni telah mengikuti proses yang ketat, terdiri dari 365 calon taruna dan 39 calon taruni. Mereka sebelumnya telah melewati serangkaian seleksi berlapis di tingkat panitia daerah dan pusat, meliputi pemeriksaan administrasi, kesehatan, psikologi, akademik, kesamaptaan jasmani, hingga pemeriksaan penampilan (rikpil). Pada tahap rikpil tingkat pusat, para peserta dinilai langsung oleh enam pejabat utama Polri, termasuk Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo dan As SDM Kapolri Irjen Anwar, memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam memilih calon-calon terbaik.
Dengan inovasi dalam rekrutmen ini, Polri menunjukkan komitmen kuatnya untuk terus berevolusi, mencetak generasi Bhayangkara yang tidak hanya profesional dan berintegritas, tetapi juga siap menghadapi era digital dengan kemampuan adaptasi dan analisis yang unggul.
