MAGELANG, INDONESIA – Suasana khusyuk nan agung menyelimuti kawasan Taman Lumbini, Kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, baru-baru ini. Lebih dari dua ribu umat Buddha dari berbagai pelosok Indonesia dan mancanegara berbondong-bondong meramaikan perhelatan akbar Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Asalha Mapuja 2570 BE/2026. Acara spiritual berskala internasional ini menjadi manifestasi nyata dari komitmen umat untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan ajaran Buddha di tanah air.
Pada Sabtu (25/7/2025), ribuan pasang mata tampak fokus mengikuti pembacaan kitab suci Tipitaka. Kitab suci ini merupakan koleksi ajaran Sang Buddha yang sangat dihormati, menjadi panduan spiritual bagi jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Momen pembacaan kolektif ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah meditasi panjang dan mendalam, menciptakan gelombang energi positif yang terasa hingga ke pelosok area Candi Borobudur yang megah.
Partisipasi 2.045 umat Buddha dari beragam latar belakang membuktikan daya tarik dan signifikansi acara ini. Kehadiran delegasi dari berbagai negara turut memperkaya khazanah kebersamaan, menunjukkan bahwa ajaran Buddha melampaui batas geografis dan budaya. Mereka semua bersatu padu dalam semangat dharma, mendedikasikan waktu dan hati untuk mendalami dan merefleksikan ajaran kebajikan.
Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) bukan hanya tentang melafalkan doa atau ayat-ayat suci; ini adalah upaya kolektif untuk meresapi esensi ajaran Buddha, yang menekankan pada kedamaian batin, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, acara ini menjadi oase spiritual, mengingatkan setiap individu akan pentingnya introspeksi dan pengembangan diri berdasarkan nilai-nilai luhur.
Dipilihnya Borobudur sebagai lokasi perhelatan bukanlah tanpa alasan. Candi Buddha terbesar di dunia ini tidak hanya merupakan situs warisan budaya UNESCO, tetapi juga pusat spiritual yang memiliki aura sakral kuat. Kehadiran ribuan umat yang melantunkan Tipitaka di kaki candi, dengan latar belakang arsitektur kuno yang menawan, menciptakan panorama yang begitu memesona dan penuh makna. Ini menegaskan kembali peran Borobudur sebagai episentrum kebudayaan dan spiritualitas Buddha di Indonesia.
Selain ITC, perayaan Asalha Mapuja 2570 BE/2026 yang juga dilaksanakan merupakan peringatan penting dalam tradisi Buddha. Perayaan ini mengenang khotbah pertama Sang Buddha kepada lima pertapa yang kemudian menjadi murid-murid pertamanya. Kombinasi kedua acara ini menjadikan Borobudur sebagai titik kumpul spiritualitas dan refleksi, memperkuat fondasi ajaran Buddha di Indonesia dan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga warisan spiritual demi generasi mendatang.
Penyelenggaraan acara semacam ini memiliki dampak positif yang luas, tidak hanya bagi umat Buddha tetapi juga bagi masyarakat umum dan sektor pariwisata. Ini mempromosikan kerukunan antarumat beragama, mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang kaya akan toleransi, serta menarik perhatian dunia terhadap kekayaan budaya dan spiritualitas Nusantara.
